Jumat, 03 November 2017

Latihan ROM Bisa Untuk Pasien Stroke

Hallo teman-temanku para pemburu ilmu
Kalian tau gak sebenernya apa sih sakit stroke itu? Oh stroke itu penyakitnya orang tua yang fungsi tubuhnya udah gak normal itu loh. Hmm kalau kalian hanya tau itu mari kita ulas bersama apa sih penyakit stroke itu?
Sebenernya ada juga loh latihan sederhana yang bisa dilakukan sendiri oleh pasien stroke dan ada juga latihan yang harus dibantu oleh perawat. Kepo kan?
Yukkk kita baca tulisan dibawah ini untuk sedikit menambah pengetahuan kita supaya kita bisa sedikit membantu pasien stroke.

Latihan Range of Motion (ROM) untuk Pasien Stroke
Stroke adalah suatu kejadian rusaknya sebagian dari otak. Terjadi jika pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke otak tersumbat, atau jika robek atau bocor. Stroke juga dapat diartikan hilangnya fungsi-fungsi otak dengan cepat, karena gangguan suplai darah ke otak. Hal ini dapat terjadi karena iskemia (berkurangnya aliran darah) dikarenakan oleh penyumbatan atau adanya pendarahan.
Stroke iskemik disebabkan oleh cabang pembuluh darah di otak mengalami penyumbatan biasanya diakibatkan oleh kolesterol dan racun dalam tubuh seperti radikal bebas. Klasifikasi stroke iskemik yang ideal harus terdiri dari semua hal mendasar patologi yang berpotensi menunjukkan kejadian indeks dan menekankan etiologi dan patofisiologis. Klasifikasi ditargetkan untuk meggambarkan patologi yang mendasarinya, tanpa menyoroti yang paling banyak kemungkinan etiologi stroke iskemik.
Studi bertujuan mengeksplorasikan hubungan Lymphocyte-to-Monocyte Ratio (LMR) dan tingkat keparahan stroke. Prediktif nilai LMR pada hasil fungsional LMR 3 bulan pada pasien dengan Akut Iskemik Stroke (AIS). Studi menggunakan korelasi untuk mengevaluasi hubungan antara LMR dan tingkat keparahan stroke. Analisis digunakan untuk menilai faktor resiko keparahan dan prognosis stroke.
Ada variasi geografis dalam kualitas layanan kesehatan namun kurang jelas strategi untuk meningkatkan kualitas di daerah tertinggal. Studi menandai kualitas perawatan untuk menilai apakah ada peningkatan akses terhadap layanan neurologis yang berpotensi menjembatani kualitas perawatan kesenjangan terutama dalam hal administrasi alteplase (rt-PA). Rumah sakit non metropolitan tampil lebih buruk daripada rumah sakit metropolitan pada semua perawatan stroke yang dinilai dari ukuran kualitas. Pusat stroke bersertifikat di setiap penunjukan geografis memberikan kualitas perawatan yang lebih tinggi.
Risiko terjadinya stroke meningkat seiring dengan berat dan banyaknya faktor risiko. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi pada penyakit stroke diantaranya adalah riwayat stroke, hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit karotis asimptomatis, transient ischemic attack, hiperkolesterolemia, penggunaan kontrasepsi oral, obesitas, merokok, alkoholik, penggunaan narkotik, hiperhomosisteinemia, antibodi antifosfolipid, hiperurisemia, peninggian hematokrit, dan peningkatan kadar fibrinogen, sedangkan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu umur, jenis kelamin, herediter, dan ras/etnis.
Bagi tenaga kesehatan, pada pasien yang memiliki faktor risiko stroke, hendaknya melakukan penatalaksanaan faktor risiko dan memberikan edukasi yang tepat. Salah satu asuhan keperawatan yang bisa kita terapkan kepada pasien stroke yaitu melatih ROM pada pasien. Range Of Motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakkan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot. Tujuan ROM adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan fleksibilitas dan kekuatan otot, mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan, mencegah kontraktur dan kekakuan pada sendi. Sedangkan manfaat latihan ROM adalah untuk menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot dalam melakukan pergerakan, memperbaiki tonus otot, memperbaiki toleransi otot untuk latihan, mencegah terjadinya kekakuan sendi, memperlancar sirkulasi darah dengan dilakukannya latihan ROM pada pasien. Latihan ROM dikatakan dapat mencegah terjadinya penurunan fleksibilitas sendi dan kekakuan sendi. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tseng et al (2007) yang mengungkapkan bahwa latihan Range of Motion (ROM) dapat meningkatkan fleksibilitas dan luas gerak sendi pada pasien stroke.






DAFTAR PUSTAKA
Radu, A. R., Terecoasa, O. E., & Bajenaru, O. A. (2017). Etiologic Classification of Ischemic Stroke . Clinical Neurology and Neurosurgery, 96 - 106.
Rahayu, K. N. (2015). Pengaruh Pemberian Latihan Range of Motion Terhadap Kemampuan Motorik Pada Pasien Post Stroke di RSUD Gambiran. Jurnal Keperawatan, 102 - 107.
Seabury, S., Bognar, K., & Huber, C. (2017). Regional Dispirities in the Quality of Stroke. American Journal of Emergency Medicine, 1234 - 1239.
Sofyan, A. M., Sihombing, I. Y., & Hamra, Y. (2012). Hubungan Umur, Jenis Kelamin dan Hipertensi dengan Kejadian Stroke. Jurnal Keperawatan, 24 - 29.







“Tidak ada rahasia untuk menggapai kesuksesan. Sukses dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan” (General Collin Power)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Langkah-langkah Menggosok Gigi

Yang jarang dilakukan orang adalah menyikat lidah terlebih dahulu sebelum menyikat gigi. Membersihkan lidah penting dilakukan untuk ...